Filosofi dan Sejarah Kubah Masjid

Filosofi dan Sejarah Kubah Masjid – Kubah masjid atau bisa disebut dengan atap Masjid, merupakan sebuah komponen yang harus ada dan selalu berkembang, bisa dari bentuk atau model. Kubah masjid juga sebagai elemen arsitek yang dapat terbentuk separuh bola mengerucut pada bagian ujung (makara).

Filosofi dan Sejarah Kubah Masjid

Sebagai komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan masjid, kubah memiliki dua fungsi berdasarkan pemahaman tata ruang, yaitu sebagai penunjuk arah kiblat jika dilihat dari sisi luar, dan menerangi ruang dari dalam. Kemegahan dan indah akan terlihat dari kesan yang dibawakan Desain kubah masjid.

Selain itu, bentuknya yang mengembang dibagian tengah merepresentasikan kelapangan, luas, dan terbuka. Hal tersebut memberikan arti bahwa islam merupakan ajaran yang terbuka, mencintai kedamaian. selain merepresentasikan kesan luas bagi orang yang beribadah di dalamnya, kubah memberikan arti kebesaran Tuhan.

Kubah masjid yang dirancang oleh kontraktor kubah dari pondasi yang melingkar mempresentasikan toleransi, sedangkan bentuk dasar kubah berupa lingkaran yang mengerucut ke atas memiliki filosofi Keesaan dan Kebesaran Tuhan.

Filosofi dan makna yang tersembunyi dalam kemegahan dan keindahan kubah menjadikan umat Muslim untuk dapat bersyukur dalam berhubungan secara baik secara horisontal (antar sesama manusia) ataupun hubungan vertikal (hubungan dengan Tuhannya).

Terlepas dari makna dan filosofi di dalamnya, bentuk kubah yang selalu berubah sesuai perkembangan jaman, seni, budaya, dan teknologi namun tetap satu penggambaran yaitu memberikan energi positif dan optimis bagi orang yang beribadah di dalamnya.

Konstruksi kubah masjid yang mendunia berbaur dengan budaya setiap tempat, bahkan tidak jarang kubah masjid mengikuti bentuk bangunan masjid ada karena peralihan fungsi bangunan sebelumnya. Contoh peralihan fungsi yang terjadi pada gereja dan berubah menjadi masjid misalnya pada Masjid Aya Sofiya di Turki yang sebelumnya adalah bangunan gereja.

Meskipun kepercayaan umat yang beribadah di dalamnya berubah, kesan yang tergambar berupa cita dan kultur agama akan terasa. Transendensi surgawi dalam kubah masjid akan tergambar karena melihat fungsinya yang luas sebagai identitas tempat ibadah Agama Islam yang merupakan contoh primer keindahan arsitektur dan penggambaran doa manusia secara filosofis.

Bentuk dan konstruksi yang terus berubah dan memiliki perjalanan mengenai akulturasi budaya yang panjang di suatu tempat memberikan isyarat visual berupa bentuk komunikasi umat Muslim. Hal ini menjadikan sudut pandang komunitas di dalamnya menjadi satu pandangan yaitu nilai kebersamaan secara global karena ibadah kaum muslim selalu dilakukan berjamaah yang mencerminkan persaudaraan umat Muslim yang kuat.

Sejarah Kubah Masjid Pertama Peradaban Islam

Masjid Berkubah Pertama
Melihat kemegahan gedung-gedung Kristen dan Romawi yang mengguanakan kubah, maka tergugahlah kekhalifahan Islam untuk membangun masjid dengan kubah yang megah. Saat khalifah Abdul Malik (685-688 M) berkuasa, dibangun Dome of The Rock (kubah batu) atau lebih dikenal Masjid Umar di Yerusallem. Inilah masjid pertama yang menggunakan kubah dalam sejarah arsitektur Islam. Sejarawan Al Maqdisi menuturkan bahwa biaya pembangunan masjid itu mencapai 100 ribu dinar (koin emas).

Gaya dan bentuk kubah semakin bervariasi ketika Islam menyebar dan berinteraksi dengan budaya dan peradaban lain. Para arsitek Muslim pun tidak segan-segan untuk mengambil pillihan-pilihan bentuk yang sudah ada. Termasuk teknik dan cara membangun yang memang sudah dimiliki oleh masyarakat setempat. Tak heran bila bentuk kubah masjid seringkali beradaptasi dengan budaya dan tempat dimana masyarakat Muslim tinggal.

Prof K Cresswell dalam Early Muslim Architecture menyatakan bahwa desain awal masjid Madinah sama sekali belum mengenal kubah. Menurut catatan sejarah dan penemuan bidang arkeologi pun, kubah pertama digunakan pada Masjid Umar di Yerusalem sekitar tahun 685 M sampai 691 M. Pada era berikutnya, tradisi kubah menjalar ke wilayah Iran dan Asia Tengah, Turki, Mesir, dan India. Di tanah Arab, kubah masih relatif jarang digunakan.

Bentuk kubah masjid di belahan dunia memiliki karakter beragam. Di Afrika Utara, misalnya, bentuk kubah berbentuk menekan, bulat rendah. Di Mesir, bentuk kubah berbentuk setengah oval, eliptis, atau berbentuk bulat panjang seperti lengkung telur, dan ada yang berbentuk silinder (ustuwani) serta kerucut (makhrut). Di Persia, kubah berbentuk seperti bawang, yaitu lancip ke atas. Di India, kubah berbentuk agak bulat. Di Turki, bentuk kubah masih kental bernuansa Bizantium. Sementara itu, di Indonesia sendiri, bentuk kubah masjid meniru gaya Timur Tengah, yaitu bulat separuh bola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *